Tuesday, March 24, 2015

DEMOKRASI Part 2

Pagi itu ketika Omen habis SholatSubuh dia keluar rumah dengan menolah-noleh kanan kiri rumahnya seperti maling pitek, terlihat sepi Omenpunlagsung keluar dengan langkah yang agak cepat, di persimpangan jalan Cakilsudah lama menunggu.

“Kenapa sih clingu’an gitu?” tanya Cakil
“Nanti kalau ketahuan Denis bisaberabe, bisa-bisa disuruh cerita soal Demokrasi lagi” Jawab Omen
“Ya uda ayo berangkat” balasCakil
Omen dan Cakil berangkat kepantai sowan pagi-pagi sekali dengan naik sepeda motor buntut. Mereka inginmenikmati semilirnya angin dan sejuknya suhu sambil menikmati matahari yangmulai bangun pagi itu. Dari belakang mereka tampak kejahuan Denis berjalan kearah Omen dan Cakil.
“Bang Omen….” teriak Denis darijauh
“Waduh, edan tenan arek iku, masih petang gini tapi udah bangun, Ayo Kilkabur”

Omen dan Cakil pun segeraberangkat dengan kecepatan yang tinggi, sementara muka Denis tampak mimik wajahyang lesu melihat tingkah mereka berdua. Tapi Denis adalah anak didikan Omenyang paling di sayang, bahkan tekat tak mudah putus asa Omen pun tersalurkandalam diri Denis, Denispun menunggu Omen sampai Omen pulang. Setelah mataharimulai naik dan panasnya mulai menyengat akhirnya Omenpun datang bersama Cakildari Pantai Sowan.

“Wah delo’en Men, opo koen gak sakno Denis wes ngenteni lo” kata Cakilsembari mengendarai Motornya ke arah Denis
Bocah ki gendeng tenan, Eh Den ngapain kamu disini?” tanya Omen
“Nungguin Bang Omen”
“Ngapain nungguin aku?”
“Mau nagih janji”
Janji opo?
“Katanya mau ngasih penjelasanmasalah Demokrasi”
“Oalah, Ayo tapi tuku rujak disek karo sego jagung, wetengku lesu
“siap bang”

Sambil menunggu pesanan rujak,mereka bertiga duduk-duduk di emperan rumah dan Omen pun mulai bicara soaldemokrasi.

“Oke kita mulai ya, seperti yangsaya bilang kemarin bahwa Demokrasi adalah sebuah kebersamaan, Pengayoman yangdialami oleh semua pihak atau semua elemen derajat yang ada di sekitar rodapemerintahan, saya pernah temukan sebuah kehidupan yang memiliki kebersamaanhebat, disitu terdapat tiga agama, agama islam, Kristen dan budha tapi merekatidak tampak seperti masyarakat yang beda agama, mereka saling tolong menolong,saling menghormati satu sama lain bahkan ketika waktu Ibadah salah satu darimereka saja saling mengingatkan, waktu itu aku kebetulan berada di salah saturumah seoarang yang beragama budha, aku tak tau kalau mereka agama budha, sayasempat ucapkan kalimat-kalimat syukur atau kaget versi islam, bahkan ketikasaya masuk juga salam dan mereka juga menjawabnya dengan benar”
“La trus Bang Omen taunyagimana?” Sangkal Denis
Sek to Den, nyangkal ae koen iku, saya lanjutkan ya, identitasmereka akhirnya saya temukan ketika adzan Magrib berkumandang, mereka menyuruhsaya untuk segera melakukan sholat magrib dan ketika saya megajak mereka sholatbersama mereka bilang, Maaf dek saya penganut Shidarta Gautama, sontak sayakaget, saya tak menyangka orang yang beragama lain sempat mengingatkan sayauntuk beribadah kepada Tuhan saya, coba kalau mereka yang ada dalam situasisaya tapi dengan agama mereka, mungkin mereka sudah di hina habis-habisan olehorang-orang islam.” Jelas Omen
“Itu dimana Bang?” tanya Denis
“Di daerah kaki gunung Den, akuingin tempat tinggal kita bisa hidup rukun bersama, menciptakan sebuahdemokrasi yang sebenarnya”
“Ah gak mungkin Men, la wong podo islame ae gelut, opo meneh karoagomo liyane” sangkal Cakil
“Iya Kil, apa di Islam di ajarkanuntuk mengejek agama lain, apa di islam diajarkan untuk mencela agama lain?Perasaan Nabi Muhammad SAW gak pernah ngajari umatnya seperti itu” kata Omen
“Iya bang, padahal Nabi MuhammadSAW saja ketika di cela, ketika di ludai beliau gak pernah membalas denganmeludai atau mencela balik” tambah Denis
“Kalau tujuannya jihad gimanaMen?” tanya Cakil
“Apa dengan kekerasan baru bisadikatakan jihad, apa gak ada jihad secara halus, Kerja juga jihad, menimba ilmujuga jihad, apa hanya dengan perang baru dikatakan jihad?” Tanya Omen balik
“La terus yang dilakukanorang-orang islam itu apa Men?” tanya Cakil
“Mereka hanya sok-so’an,mentang-mentang dinobatkan sebagai agama penyempurna terus mereka perangi agamaselain mereka” Kata Omen
“Masak gitu Men?” tanya Cakil
“Aku juga gak tau, itu hanyaperkiraanku saja, Tuhan yang tau segalanya”
“Eh udah dulu, Bang Omen, BangCakil ini rujaknya sudah siap, Santap dulu bang” kata Denis.  (EnHa)

2 comments:

  1. Hidup dengan berbagai agama harus saling menghormati dahulu. Duduk bersama sambil makan rujak bisa jadi sarana untuk berkomunikasi yang sehat dan membangun demokrasi. Cerita yang bagus sobat :)

    ReplyDelete