Pagi itu ketika Omen habis SholatSubuh dia keluar rumah dengan menolah-noleh kanan kiri rumahnya seperti maling pitek, terlihat sepi Omenpunlagsung keluar dengan langkah yang agak cepat, di persimpangan jalan Cakilsudah lama menunggu.
“Kenapa sih clingu’an gitu?” tanya Cakil
“Nanti kalau ketahuan Denis bisaberabe, bisa-bisa disuruh cerita soal Demokrasi lagi” Jawab Omen
“Ya uda ayo berangkat” balasCakil
Omen
dan Cakil berangkat kepantai sowan pagi-pagi sekali dengan naik sepeda
motor buntut. Mereka inginmenikmati semilirnya angin dan sejuknya suhu
sambil menikmati matahari yangmulai bangun pagi itu. Dari belakang
mereka tampak kejahuan Denis berjalan kearah Omen dan Cakil.
“Bang Omen….” teriak Denis darijauh
“Waduh, edan tenan arek iku, masih petang gini tapi udah bangun, Ayo Kilkabur”
Omen
dan Cakil pun segeraberangkat dengan kecepatan yang tinggi, sementara
muka Denis tampak mimik wajahyang lesu melihat tingkah mereka berdua.
Tapi Denis adalah anak didikan Omenyang paling di sayang, bahkan tekat
tak mudah putus asa Omen pun tersalurkandalam diri Denis, Denispun
menunggu Omen sampai Omen pulang. Setelah mataharimulai naik dan
panasnya mulai menyengat akhirnya Omenpun datang bersama Cakildari
Pantai Sowan.
“Wah delo’en Men, opo koen gak sakno Denis wes ngenteni lo” kata Cakilsembari mengendarai Motornya ke arah Denis
“Bocah ki gendeng tenan, Eh Den ngapain kamu disini?” tanya Omen
“Nungguin Bang Omen”
“Ngapain nungguin aku?”
“Mau nagih janji”
“Janji opo?”
“Katanya mau ngasih penjelasanmasalah Demokrasi”
“Oalah, Ayo tapi tuku rujak disek karo sego jagung, wetengku lesu”
“siap bang”
Sambil menunggu pesanan rujak,mereka bertiga duduk-duduk di emperan rumah dan Omen pun mulai bicara soaldemokrasi.
“Oke
kita mulai ya, seperti yangsaya bilang kemarin bahwa Demokrasi adalah
sebuah kebersamaan, Pengayoman yangdialami oleh semua pihak atau semua
elemen derajat yang ada di sekitar rodapemerintahan, saya pernah temukan
sebuah kehidupan yang memiliki kebersamaanhebat, disitu terdapat tiga
agama, agama islam, Kristen dan budha tapi merekatidak tampak seperti
masyarakat yang beda agama, mereka saling tolong menolong,saling
menghormati satu sama lain bahkan ketika waktu Ibadah salah satu
darimereka saja saling mengingatkan, waktu itu aku kebetulan berada di
salah saturumah seoarang yang beragama budha, aku tak tau kalau mereka
agama budha, sayasempat ucapkan kalimat-kalimat syukur atau kaget versi
islam, bahkan ketikasaya masuk juga salam dan mereka juga menjawabnya
dengan benar”
“La trus Bang Omen taunyagimana?” Sangkal Denis
“Sek to Den, nyangkal ae koen iku,
saya lanjutkan ya, identitasmereka akhirnya saya temukan ketika adzan
Magrib berkumandang, mereka menyuruhsaya untuk segera melakukan sholat
magrib dan ketika saya megajak mereka sholatbersama mereka bilang, Maaf
dek saya penganut Shidarta Gautama, sontak sayakaget, saya tak menyangka
orang yang beragama lain sempat mengingatkan sayauntuk beribadah kepada
Tuhan saya, coba kalau mereka yang ada dalam situasisaya tapi dengan
agama mereka, mungkin mereka sudah di hina habis-habisan olehorang-orang
islam.” Jelas Omen
“Itu dimana Bang?” tanya Denis
“Di daerah kaki gunung Den, akuingin tempat tinggal kita bisa hidup rukun bersama, menciptakan sebuahdemokrasi yang sebenarnya”
“Ah gak mungkin Men, la wong podo islame ae gelut, opo meneh karoagomo liyane” sangkal Cakil
“Iya
Kil, apa di Islam di ajarkanuntuk mengejek agama lain, apa di islam
diajarkan untuk mencela agama lain?Perasaan Nabi Muhammad SAW gak pernah
ngajari umatnya seperti itu” kata Omen
“Iya bang, padahal Nabi
MuhammadSAW saja ketika di cela, ketika di ludai beliau gak pernah
membalas denganmeludai atau mencela balik” tambah Denis
“Kalau tujuannya jihad gimanaMen?” tanya Cakil
“Apa
dengan kekerasan baru bisadikatakan jihad, apa gak ada jihad secara
halus, Kerja juga jihad, menimba ilmujuga jihad, apa hanya dengan perang
baru dikatakan jihad?” Tanya Omen balik
“La terus yang dilakukanorang-orang islam itu apa Men?” tanya Cakil
“Mereka hanya sok-so’an,mentang-mentang dinobatkan sebagai agama penyempurna terus mereka perangi agamaselain mereka” Kata Omen
“Masak gitu Men?” tanya Cakil
“Aku juga gak tau, itu hanyaperkiraanku saja, Tuhan yang tau segalanya”
“Eh udah dulu, Bang Omen, BangCakil ini rujaknya sudah siap, Santap dulu bang” kata Denis. (EnHa)
Hidup dengan berbagai agama harus saling menghormati dahulu. Duduk bersama sambil makan rujak bisa jadi sarana untuk berkomunikasi yang sehat dan membangun demokrasi. Cerita yang bagus sobat :)
ReplyDeleteThanks sobat,, salam kenal
ReplyDelete