Hari ini suasana terlihat beda, pertigaan titik 0 yang biasanya
sepiakibat ditinggal tiga sekawan kini terlihat ramai, tiga sekawan yang
telah lamahilang itu kini muncul lagi. Omen, kentos dan Cakil mereka
terlihat metangkring di pertigaan yang telah lamamereka tinggal kini kembali mereka ramaikan lagi.
“Woi brow, lagi ketok tekan endiae” kata Glimbung yang kebetulan lewat
“Kon kangen ta?” sahutKentos
“Maaf, kami habis bertapa” Kata Cakil
“Heh… beneran Men yang dikatakan Cakil?” tanya Glimbung lagi
“Ya,
kami habis sembunyi dari keramaian hiruk pikuk dunia, kabur
darisuara-suara bising kendaraan, polusi udara yang menyengat juga
ulah-ulahpejabat yang tak karuan tingkahnya” kata Omen.
Suasana pertigaan saat itupun langsung ramai ditambah iringan gitaryang dimainkan Cakil. Genjrang-genjreng denganmemainkan
lagu milik Gombloh yang berjudul Berita Cuaca. Tak lama
berselangditengah-tengah irama goyangan kepala yang mengangguk-angguk
dan goyangansederhana jemari kaki dan tangan tiba-tiba nada berhenti
seiring suara teriakanhisteris Denis.
“Bang Omeeen….”,
teriak Denis dengan lantang mendekati Omen dankawan-kawan. Denis adalah
salah seorang anak yang dulu kerap sekali bersamaOmen, Denis sangat erat
hubungannya dengan Omen, apalagi ketika Omen berceritasoal Dagelan
dalam Desa, Denis malah tak mau berpisah dengan Omen.
“Ada apa Denis?” tanya Omen
“Kangen Bang Omen, kapan Bang Omen kembali, kok tiba-tiba nongol?”
“Kemarin Den, eh ada berita apa di Desa Den?”
“Biasa aja Bang, bang cerita soal demokrasi dong Bang?”
“Anak
ini paling senang kalau cerita soal pergerakan, yaudah sayacerita
sedikit soal demokrasi, sebelumnya saya tanya, apa sih demokrasi itu?”
“Kalau
jamannya Denis masih di bangku SMP dulu, katanya Demokrasi ituDari
Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat, itu bang katanya”
“Ya,
rata-rata guru mengatakan begitu, saya waktu masih sekolah jugadi kasih
pengertian seperti itu, itu bukan salah, tapi saya punya
pengertiansendiri”
“Sok pinter Men, opo jajal?”sahut Cakil
“Demokrasi
itu sebuah kebersamaan, Pengayoman antara berbagai macamkasta, ras,
suku dan budaya yang hidup dalam satu daerah, itu menurut saya”Jelas
Omen
“Menurut Bang Omen di Desa ini sudah terbentuk sebuah Demokrasibelum?” tanya Denis
“Desamu ini gak akan bisa berdemokrasi, orang-orangnya pingin menangsendiri, pingin jadi orang terdepan semua, rata-rata mereka doyan duwet,
jadi kalau kerja kalau gakada imbalannya gak akan jalan. Contohnya udah
banyak, Desamu ini termasuk Desayang multi Ras, Multi Budaya, Multi
keompok tapi sayang, mereka tak bisaberdemokrasi dengan baik, NU dan
Muhammadiyah dua oraganisasi yang seakan-akantak mau berjabat tangan,
selalu terjadi persaian sehingga menimbulkan sebuahkecemburuan sosial,
NU bikin masjid besar di tengah Desa, Muhammadiyah tak maukalah mereka
bikin masjid yang besar pula di Desa, kenapa mereka tak maumenyatukan
tujuan mereka yang sama-sama ingin membuat masjid, andai bersatumungkin
masjid yang berdiri jauh lebih besar dari masjid yang mereka bangunsaat
ini, bukti kalau mereka ingin jadi orang yang di pandang atau edan pangkat. Itu baru sebatas antarkelompok, sementara pemerintahan yang ada di desamu juga banyak sebuahkejanggalan”
“Kok bisa Bang” tanya Denis
“Mereka di gaji dari uang siapa?” Tanya Omen
“Ya uang kita-kita ini dong” sahut Cakil
“Kalau uang kita, kenapa tiap dimintai tanda tangan atau stempelmereka minta bayar lagi?” Bantah Omen
“Untuk administrasi Bang?” jawab Denis
“Administrasi itu masuk uang saku pribadi atau kas desa?” Bantah Omenlagi
“Nah ini yang menjadi tanda tanya Men” kata Kentos
Sementara itu Glimbung hanya lholaklholok mendengar diskusi Omen, Kentos, Cakil dan Denis.
“99%
saya yakin uang tersebut masuk saku pribadi, apa gaji merekakurang?
Mereka di digaji salah satu tugasnya untuk memberi tanda tangan
danstempel, kalau mereka masih meminta lagi ketika memberikan stempel
dan tandatangan sama halnya mereka merampas uang rakyat, kalau memang
gaji mereka kurangmending berhenti jadi petugas pemerintahan dan mencari
pekerjaan yang hasilnyalebih tinggi daripada memaksakan untuk jadi
petugas pemerintahan tapi merampokuang rakyat” Jelas Omen
“Terus gimana caranya Demokrasi di desa ini bisa tertata rapi BangOmen?” Tanya Denis
“Bunuh
semua penduduk yang ada dan munculkan generasi baru denganDemokrasi
yang semestinya, karena kalau masih ada virus yang berkeliaran
lambatlaun pasti menular ke yang lain juga” jawab Omen sadis
“Ojo ngawur Men, berartitermasuk aku juga di bunuh dong” teriak Cakil tak terima
“Kasarannya gitu, wes buyar yuk,arep adus” kata Omen
“Tapi Bang Omen pernah tau suatu desa yang mempunyai metode Demokrasiyang bang Omen maksud?” tanya Denis
“Ya pernah”
“Ceritakan dong Bang?”
“kapan-kapan
kita sambung lagi oke, gak seru kalau di selesaikansekarang ceritanya,
biar kamu penasaran, Sekarang ayo pulang dulu, Hehehe” KataOmen (EnHa)
No comments:
Post a Comment