Malam itu tepatnya malam jum’at tampak terlihat beda, titik 0
yang biasanya ramai kini sepi kembali, tak ada gelak tawa suara gurau
para penghuni tempat tersebut, yang ada hanya suara gemuruh kendaraan
yang berlalu lalang, bahkan cungirnya Omen pun yang biasanya menghiasi
setiap waktu tempat tersebut juga tak kunjung kelihatan, meski suara
gemuruh kendaraan berlalu lalang tapi tempat itu dikategorikan sepi jika
Omen dan gerombolannya tak meramaikan tempat tersebut.Denis yang sempat
keluar rumah menuju ke titik 0 pun kembali pulang karena takada
gerombolan Omen yang nyangkruk ditempat tersebut.
Pagi harinya Omen kelihatan lebih segar, rambutnya tersisir rapi setelah mandi, dia keluar rumahdan sudah ndeglek
di titik 0 tempat biasanya dia menghabiskan waktu seharian. Tak lama
berselang gerombolannya mulai datang satu persatu, mulai dari Cakil,
Kentos, dan Gemblung. Bercanda tertawa sambil menyantap Sego jagung campur bumbu rujak favorit mereka ketika sarapan,
di tambah pemandangan orang-orang yang berlalu lalang dari pasar. Dari
arah pasar terlihat Denis yang sedang berjalan ke arah gerombolannya
Omen.
“Den, darimana kamu?” Tanya Omen
“Beli sayuran bangdi pasar” Jawab Denis
“Cowok kok beli sayuran Den?” Tanya kentos
“Emang gak boleh yabang, saya kan ingin jadi Birrul Walidain” Balas Denis
“Anak didikan Omen yang satu ini emang paling pintar kalau disuruh membalas pertanyaan” KataKentos
Sementara Omen mengacungkan jempolnya kepada Denis.
“Den, sarapan Sego jagung dulu” kata Omen
“Makasih Bang, aku pulang dulu, sayurannya udah di tunggu emak” jawab Denis
“Oke, hati-hati”
Selang satu jamberlalu, Denis kembali ngumpul bersama Omen.
“Udah kamu kasikan sayurannya Den?” Tanya Gemblung
“Udah Bang Gemblung” Jawab Denis
Ditengah-tengah obrolan Glimbung dengan nafas yang tersendat-sendat.
“Eh, Glimbung kamu kenapa, kok kayak habis di kejar-kejar begal?” Tanya Kentos
“Capek Bang habis dari pasar, apalagi pasarnya sesak banget, rasanya tak ada oksigen yang tersisa” Jawab Glimbung
“Makanya jangan badan aja yang digemukin, olahraga dong jangan Cuma glimbang-glimbung di rumah aja” Kata Denis
Sambil menetralkan nafasnya yang tersendat-sendat Glimbung ikut nimbrung ngobrol bersama mereka.
“Bang Omen kemarin malam kok gak ada kelihatan di sini bang?” Tanya Denis
“Malam jum’at kemarin saya ada undangan yasin dan tahlil itu 40 hari wafatnya Mbah Sukiem”Jawab Omen
“Bukane
Bang Omen orang Muhammadiyah, kenapa ada acara yasin dan tahlil segala,
kemarin bang Omen saya lihat juga lagi asik jadi panitia Gowo’an?”Tanya Denis
Sembari
tersenyum Omen menjawab “Den, dari kecil pendidikan saya memang
Muhammadiyah sampai saya lulus SMA, tapi bukan berarti saya harus ikut
Muhammadiyah dong”
“Kalau begitu berarti NU ya bang” Sangkal Denis
“Jangan
menyangkal dulu, saya belum selesai ngomong, saya NU juga bukan,
Habluminallah itu penting Den tapi Habluminannas juga penting, kita
hidup di dunia ini bercampur beragam faham, kelompok dan agama, kalau
dunia ini di ciptakan dengan satu faham, satu kelompok, satu agama
mungkin habluminannas gak akan pernah ada, Habluminannasitu
menghubungkan bagaimana sikap kita kepada orang yang beragama lain,
orang yang berkeyakinan lain, orang yang memiliki kepercayaan lain.
Kenapa saya menghadiri undangan yasin dan tahlil, kenapa saya ikut Gowo’an
itu karena saya mempunyai Habluminannas, meskipun dari kecil saya tak
pernah diajarkan ajaran-ajaran itu dan saya akui ajaran-ajaran itu tak
ada dalam tuntunan islam tapi saya masih memiliki rasa hormat terhadap
sesama manusia. Den kamu tahukan ajaran-ajaran itu dulunya ajarannya
siapa?”
“Iya bang, itu ajarannya orang zaman Hindu –Budha?”
“Sadar
gak Den,kalau ajaran-ajaran warisan Hindu-Budha itu telah mengentalkan
islam,mempertahankan islam di bumi Indonesia ini. Ajaran Hindu-Budha itu
yang sudah melekat di denyut nadi orang Indonesia di sulap oleh para
wali dengan mengganti bacaan-bacaan didalamnya dengan bacaan-bacaan
ajaran orang islam. Andai waktu itu para wali memusnahkan secara tuntas
ajaran-ajaran tersebut di bumi Indonesia ini, saya gak yakin islam di
Indonesia bakal bertahan sampai sekarang”
“Tapi itu Bid’ah Bang”
“Betul
Den, kamu ingatkan ketika K.H Ahmad Dahlan menggunakan metode
pengajaran belanda denganmemakai meja dan kursi, tokoh lain yang tau
metode K.H Ahmad Dahlan waktu itu mengatakan K.H Ahmad Dahlan kafir tapi
kenapa metode itu diterapkan sampai sekarang ke semua lembaga
pendidikan. Den, Bid’ah, Kafir itu yang tau Cuma Allah dan kita sendiri,
yang berhak memfonis seseorang kafir, Bid’ah dll itu Allah, kita ini
Cuma di kasih batasan-batasannya saja, saya kemarin ikut acara yasin dan
tahlil juga Gowo’an kalau niat saya ingin mempertahankan
bid’ah-bid’ah itu berarti saya bisa di katakan kafir, tapi kalaiu niat
saya habluminannas menghormati orang yang mengundang saya, apa saya bisa
dikatakan kafir, lagian Gusti Allah mboten sare, DIA maha tau, DIA maha mengerti apa yang kita niatkan.”Jelas Omen
“Aku kok malah bingung bang” Kata Denis
“Mungkin udelmu ije basin Den jadi kamu tambah bingung” Kata Omen
“Masak bang, saya tadi udah mandi kok bang” Bantah Denis
“Hahahahaha.................” (EnHa)
No comments:
Post a Comment